Kamis, 02 Maret 2017

Nyanyian Alam

Pada alam aku bersenandung kata bilur waktu.
Separuh napas terhenti berkabung rasa.
Pada denaunan berguguran aku bercerita.
Entah mereka memihak dalam gugur.
Ahhhh
Aku jengah meneriaki waktu yg menodai masa.
Semasih alam bernyanyi lirih dalam sendu sendah gurau mentari.
Akankah waktu memihak masa?
Seruan dentungan air mengantar detak jantung yg tak berati.
Sampai aku terbawa arus menepi lirik waktu.
Pada tirani saudagar mimpi. Meramaikan insting percarian cinta.
Aku ternoda waktuku.
Suatu hari masa itu tergiang dalam kelabu sang rembulan.
Kini aku mendengar panggilan itu.
Jika waktunya biarkan syairku tetap menggema dalam pakuan mimpi.
Suatu waktu aku kan berjalan menuju waktu yg kian tak berpihak pada diriku

SYAIR

Aku hanyalah penghubung syair terbuang, membangun rima bermisteri, menggonggong di kaki bulan. Berharap pagi mengantarku pada singasana alam. 
 Syairku bukanlah magma, syairku hanyalah seonggok riun akan kejengahan hidup. Yg membangkitkaku pada kata mati. Membimbing pada kafan merah muda. Letak poros mendenguh pada metamarvosa hidup. Kemana bilangan-bilangan itu berujung, mengurungku pada rumus tak terpecahkan. Sekarang rumus itu berputar menusuk kolbu membakar sendi hidup. Jika panah tak menembus. Biar syair ini menembus awan

Senin, 17 Oktober 2016

PERPISAHAN

Perpisahan

Ass……
Aku tak bercerita untukmu
Aku tak berandai untuk ini
Aku tak berhayal untuk ini dan
Aku tak bermitos tentang ini.
Ingatkatkah saat kita pandai mengasah mimpi?
Sapa yang menuntun kita pada mimpi?
Ingatkah kita, kita berlari-lari pergi!
Apakah kita ke kelas?
Ingatkah kita saat menginjakan kaki disini?
Apakah ada yang kita tahu?
Dialah yang tak pernah bergurau dengan mimpi kita.
Dilah yang menunjukan kita pada cita-cita kita.
Dialah yang menuntun kita agar kita berlari kekelas bukan  bermain putekumpet
Dialah yang mengajarkan kita arti sebuah mimpi
Dialah guru-guru kita, yang tak pernah mengenal lelah.
Entah hujan dan terik mentari, dia merobohkan dinding itu untuk memanusiakan kita
Dia meninggalkan anak dan istrinya dirumah untuk kita.
Dia meninggalkan rutinitasnya hanya untuk kita.
Tapi apa?
Apa yang kita berikan untuk mereka?
Apakah kita pernah membuatya tersenyum?
Apakah kita pernah membuatnya bangga?
Apakah kita pernah membuatnya betah untuk selalu bersama mereka?
Tidakkan?
Sekarang hari terakhir kita
Apa yang ingin kalian sampaikan pada guru kita!
Guruku…
Jasamu tak sebanding hujan yang membasahi bumi
Jasamu tak terbandingkan dan tak mampu kami balaskan
Jasamu tak akan kami lupakan sepanjang hayat kami
Jasamu tak akan mampu di hapus oleh waktu
Guruku….
Kini kami telah selesai menitik mimpi bersamamu
Ijinkanlah kami mengejar mimpi yang diceritakan dulu
Biarkanlah kami bergegas menggengam dunia seperti harapanmu
Ridhoilah kami, agar kami menggapai mimpi kami dan harapanmu.
Guruku….
Maafkanlah tingkah kami, yang membuatmu patah hati
Maafkanlah kenakalan kami, yang membuatmu patah arah atas kami.
Guruku….
Kini kami tak bisa lagi melihat senyummu
Kini kami tak bisa lagi mendapatkan nasehatmu
Kini kami tak bisa mencium tanganmu lagi
Guruku…
Doa dan restumu harapan kami untuk menyertai kepergian kami
Guruku….
Mimpimu adalah mimpi kami.
Untuk adik-adikku
Kini kami titipkan segenggam harapan
Buatlah mereka bangga bukan karna kenakalanmu tapi prestasimu
Buatlah mereka bahagi bukan membuat mereka resah akan sikap kalian
Buatlah cinta untuk mereka bukan dusta
Adik-adikku
Kini tongkat estavet kejayaa SMA NEGERI 2 BOLO kami titipkan pada kalian
Berlarilah dan berpaculah untuk mengharumkan Sekolah kita tercinta
Berikanlah segudang prestasimu dan tunjukan eksistensimu
Sebagai generasi pembawa kemajuan sekolah kita dan bangsa kita INDONESIA
Adik-adikku
Kini harapan ada di pundakmu
Adik-adikku..
Selamat jalan
Kami menunggumu di panggung mimpi di tahun yang akan dating adik-adikku.

Waslam……….