Aku hanyalah penghubung syair terbuang, membangun rima bermisteri, menggonggong di kaki bulan. Berharap pagi mengantarku pada singasana alam.
Syairku bukanlah magma, syairku hanyalah seonggok riun akan kejengahan hidup. Yg membangkitkaku pada kata mati. Membimbing pada kafan merah muda. Letak poros mendenguh pada metamarvosa hidup. Kemana bilangan-bilangan itu berujung, mengurungku pada rumus tak terpecahkan. Sekarang rumus itu berputar menusuk kolbu membakar sendi hidup. Jika panah tak menembus. Biar syair ini menembus awan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar