Pada alam aku bersenandung kata bilur waktu.
Separuh napas terhenti berkabung rasa.
Pada denaunan berguguran aku bercerita.
Entah mereka memihak dalam gugur.
Ahhhh
Aku jengah meneriaki waktu yg menodai masa.
Semasih alam bernyanyi lirih dalam sendu sendah gurau mentari.
Akankah waktu memihak masa?
Seruan dentungan air mengantar detak jantung yg tak berati.
Sampai aku terbawa arus menepi lirik waktu.
Pada tirani saudagar mimpi. Meramaikan insting percarian cinta.
Aku ternoda waktuku.
Suatu hari masa itu tergiang dalam kelabu sang rembulan.
Kini aku mendengar panggilan itu.
Jika waktunya biarkan syairku tetap menggema dalam pakuan mimpi.
Suatu waktu aku kan berjalan menuju waktu yg kian tak berpihak pada diriku
Kamis, 02 Maret 2017
SYAIR
Aku hanyalah penghubung syair terbuang, membangun rima bermisteri, menggonggong di kaki bulan. Berharap pagi mengantarku pada singasana alam.
Syairku bukanlah magma, syairku hanyalah seonggok riun akan kejengahan hidup. Yg membangkitkaku pada kata mati. Membimbing pada kafan merah muda. Letak poros mendenguh pada metamarvosa hidup. Kemana bilangan-bilangan itu berujung, mengurungku pada rumus tak terpecahkan. Sekarang rumus itu berputar menusuk kolbu membakar sendi hidup. Jika panah tak menembus. Biar syair ini menembus awan
Syairku bukanlah magma, syairku hanyalah seonggok riun akan kejengahan hidup. Yg membangkitkaku pada kata mati. Membimbing pada kafan merah muda. Letak poros mendenguh pada metamarvosa hidup. Kemana bilangan-bilangan itu berujung, mengurungku pada rumus tak terpecahkan. Sekarang rumus itu berputar menusuk kolbu membakar sendi hidup. Jika panah tak menembus. Biar syair ini menembus awan
Langganan:
Komentar (Atom)